Ini sebenernya pengalaman minggu lalu tapi sayang kalo cuma disimpen di kepala. Seneng aja rasanya bisa sharing ma temen2 baru, padahal sebenernya aku bukan host mereka ![]()
Jadi ceritanya waktu aku lagi nginep di rumah temenku, Tuti, dia bilang mau ajak aku ke D6. Aku langsung liatin matanya, “Itu bukannya rumah wakil rektor ya?” trus aku bilang aja kalo sebelumnya pernah beberapa kali ke situ. Tuti sekarang jadi host buat anak-anak student exchange dari Korea, dan dia pengen ngenalin aku sama mereka.
And there were we again … dibela-belain gerimis malem-malem tetep datang, ternyata mereka lagi ngga ada di dormitory. Katanya sih lagi pergi ke Gelanggang Mahasiswa. Sempat ngabisin waktu sebentar ngobrol sama ibu petugas di situ, akhirnya aku ma Tuti nyusul mereka ke Gelanggang.
Nah itu dia mereka, 12-an anak-anak Korea, semuanya cewe, lagi belajar gerakan-gerakan dasar tari Jawa. Wow. Lumayan juga mereka, padahal yang dipelajari tu tari Klasik lho. Ada salah satunya bahkan yang didandani pake kostum lengkap. Kalo gak salah sih itu kostum Tari Merak. Luwes juga untuk ukuran pemula
.
Aku ma Tuti nimbrung di belakang mereka, ngikutin beberapa gerakan yang dicontohin pelatih. Serasa balik ke SD, hahaha. Pelatih mengajarkan beberapa pose berikut nama-nama pose itu, misalnya gedrug (menghentakkan ujung kaki ke belakang), mendhak (berdiri dengan kaki ditekuk membentuk huruf O), dan beberapa sikap tangan (sori lupa namanya, takut salah, hehehe). Salut juga dengan caranya menjelaskan dalam bahasa Inggris. Lebih salut lagi dengan antusiasme teman-teman Korea itu tentunya.
Sehabis pelajaran mereka selesai, baru mereka noleh ke belakang dan Tuti ngenalin aku. Aku bilang, “hello, my name is inda. Annyong haseo, this is the only Korean word i can say.” Dan mereka langsung bilang woo ditengah senyum mereka.
Ya pastinya mereka juga bisa langsung akrab ma aku lah. Ada juga yang ngajarin aku bilang selamat tinggal & selamat jalan. Kalo nggak salah salah satunya adalah, “ Annyong Kyoseo” dan waktu itu mereka bilang aku smart karena langsung bisa pronouncing-nya. Err … masa siy? Ya udah aku bilang aja sambil pasang senyum lagi, “I think it depends on the teacher.” Trus cewe yang ngajarin aku itu langsung angkat dagu sambil matanya disipitin plus nahan senyum juga. Dasaaar … sama juga bisa narsis ni orang ![]()
Balik lagi ke dormitory (D6), awalnya aku di luar aja waktu mereka masuk kamar, tapi Tuti ngajak aku masuk juga. Di tengah obrolan mereka, Tuti nanya ke aku, “Do you know saron?”
Aku jawab, “Yes. I play gamelan when i was in elementary school (Walaupun waktu itu aku bukan main saron sih)” Lagi-lagi mereka bilagn woo tandanya kagum. Duh, mana bisa sih kita nggak senyum kalo ada di situasi kayak gini ![]()
Eh tiba-tiba Tuti bilang, “She danced, too.” Walah, jadilah aku ditodong juga di depan mereka. Okay, “But firstly we must close the door.” Kataku sambil nutup pintu. Ga enak aja kalo sampe diliat mas-mas host di luar.
Temen-temen Korea bilang woo lagi. Eh, Tuti ngomporin lagi, “She’s going to perform a sexy dance.” What? Aku langsung ngelirik Tuti, tapi Tuti jelas nyuekin aku. Huww. Mereka tambah ribut lagi waktu aku buka jaket. Chill, girls. What do you expect, i still got my long-sleeves shirt inside my jacket! ;p
Yah, disuruh nariin tarian waktu SD jelas lupa lah. Tapi ternyata mereka cuma perlu satu gerakan aja. Gerakan itu dulu yang paling susah. Waktu itu aku harus pegang lilin yang ditempel ke piring kecil, dan lilin itu nyala, trus aku barus putar tanganku sedemikian rupa sampai bikin semacam gerakan rotasi 2 X 360⁰. Ada sih resiko kena apinya, ato terkilir juga, tapi kalo bisa luwes emang fun banget. Dan ternyata mereka sukses niruin aku. Hehe seneng juga jadinya.
Gitu aja, habis itu Tuti yang gantian jadi instruktur salsa buat mereka. Aku juga ngobrol nanyain arti nama-nama mereka. Serasa pajamas party ma temen deket.
So, did I enjoy that encounter?
Haha, it will be rhetorical to be answered, right?
Main bentar sama anak Korea Januari 23, 2009
Karena sebuah kejadian hematoma November 19, 2008
Hematoma adalah penampakan biru/ keunguan pada kulit yang dapat terjadi karena benturan atau sebab lain. Di balik kulit yang membiru itu, terdapat pembuluh darah yang pecah dan darahnya keluar serta kemudian membeku (menjendal) di luar pembuluh darah itu. Jika letaknya cukup dekat dengan permukaan kulit, maka akan terlihat seperti warna biru/ungu. Umumnya terasa nyeri, terutama jika ditekan, dan kadang juga disertai pembengkakan.
Ada beberapa orang yang punya ‘bakat’ hematoma. Artinya, orang itu mudah mengalami hematoma karena sebab yang bisa dibilang ringan.
Misalnya hari ini. Bukan saya, tetapi adik kelas saya, tapi karena dia adalah peserta praktikum yang sedang berada dalam pendampingan saya, makanya saya ‘berhak’ merasa khawatir.
Seperti biasa, topik praktikum Faal Oral yang saya asisteni adalah hematologi, dengan acara praktikum pengukuran kadar hemoglobin, pengukuran waktu perdarahan dan waktu penjendalan (pembekuan) darah. Praktikum ini membutuhkan sampel darah sebanyak 20 mikroliter (tak sampai satu tetes) dan sampel itu diperoleh dari salah satu praktikan (peserta), oleh rekan satu kelompoknya, dengan cara ditusuk jarum lancet (seperti jarum untuk uji golongan darah). Rupanya ada kejadian tidak menguntungkan, selama dua periode saya menjadi asisten, baru kali ini ada yang sampai hematoma karena jarum sependek 5 mm itu. Hematomanya sendiri berukuran sekitar 5-7mm di ujung jari dan membengkak setinggi sekitar 1 mm.
Saya panik? Tentu saja, tapi saya langsung menelepon dosen penanggung jawab mata kuliah yang kebetulan tidak hadir di lab. Sampai tiga kali telepon saya tidak dijawab, larilah saya menuju kantornya walaupun saya tidak yakin saya bisa menemui beliau.
Baru sampai di lantai satu sebelum masuk lift, kebetulan saya melihat seseorangyang tampaknya bisa saya tanyai. Namanya Mas Arya, asisten praktikum histologi yang sekarang ko-ass di bagian IKGM-ilmu kedokteran gigi masyarakat, dan saya langsung bertanya apa yang harus saya lakukan kalau ada hematoma. Mas Arya menginstruksikan untuk mengopres hematoma tersebut dengan kompres dingin (es), dan setelah hematoma itu lebih mengeras kemudian kompres diganti dengan kompres hangat. Jangan langsung kompres hangat karena berpotensi menimbulkan perdarahan.
Saya langsung berlari kembali ke lab sambil mengeluh dalam hati kenapa hari ini saya pakai high heels (yang setelah itu saya pakai buat naik-turun tangga lagi … phew!). saya mendapati jari adik yang tadi ada hematoma itu sedang dikompres dengan es. Dia tidak lemas, tetapi mengeluh nyeri. Saya lalu berlari ke kantin untuk mendapat air hangat. Kemudian saya memastikan agar dia ‘luka’ hematomanya agar mengeras, baru saya berikan kantong air hangat kepadanya.
Setelah itu hp saya baru berbunyi. Itu dosen yang saya panggil tadi. Beliau menyarankan untuk memberikan obat oral jika memang terasa nyeri sekali. Saya punya paracetamol yang selalu saya bawa untuk berjaga-jaga, dan itulah yang saya berikan padanya. Selanjutnya saya berikan salep Thrombophob berbentuk ointment untuk dioleskan jika perlu.
Bagaimana luka hematoma itu sekarang, saya masih perlu menanyakannya lagi kepada adik kelas saya itu. Yang jelas pengalaman hari ini sangat berharga bagi saya, bahwa di klinik dan di manapun juga, saat menghadapkan teori pada manusia, akan banyak sekali ‘kejutan’ yang memerlukan kesiapan kita untuk antisipasi.
Rencana skripsi dan penelitian September 18, 2008
Break tadi siang ini langsung saya pake buat pulang n tidur. Duh, di kelas pala sampe sakit nahan ngantuk. Yawdah, begitu nempel kasur, langsung ’terbang’.
Alarm bunyi sekitar 15 menit sebelum waktu target, tapi kaki rasanya kesemutan banget. Pindah posisi deh … tapi kok pas lihat jam lagi, kenapa jarum panjangnya mundur dari angka yang tadi ya?
Wuaaa … ternyata ketiduran lima puluh menit! Hiks, kalo dateng jam segini, mana boleh masuk kelas?
Yawdah, karena udah mepet sama agenda berikutnya, langsung aja ke kantor dosen pembimbing. Harusnya emang pada disuruh dateng sama teman-teman lain yang skripsi di Bagian Biologi Mulut. Pas nyampe sana, taunya saya masih sendirian. Ditanya dosen, kok sendirian. Aku bilang aja nanti yang lain nyusul. ”Loh kamu sekarang nggak kuliah?” tanya beliau. Deg, malu banget. ”Ehm, iya Dok, saya kesiangan tadi.” belakangan pas saya cerita sama temen-temen saya soal itu, saya udah nggak dikatain sleeping beauty lagi, tapi sleeping bag. Waduh.
Oke, setelah ngumpul semua, baru dosen saya ngasih pengarahan. Katanya, yang skripsi di Bagian Biologi Mulut ini artinya (jadi) keluarga besar, harus saling membantu (meskipun topiknya beda). Dosen juga memberi beberapa nasehat selain menetapkan deadline ujian skripsi. Ujian skripsi di bagian sini berbeda dengan yang lainnya, nggak pake ujian proposal, ujian yang ada hanya ujian akhir skripsi.
Setelah pengarahan selesai, saya lompat ke kampus KH karena kemarin disuruh datang sama dosen saya yang lain. Kok ke KH (kedokteran hewan)? Tenaaang, bukan berarti saya lompat jurusan, masih anak KG kok. Dosen saya yang ngundang juga dosen KG. Cuma, sore ini lagi ada perlu untuk sharing soal metode penelitian dengan dosen mikrobiologi KH.
Saya datang agak terlambat dan langsung ikut ke meja diskusi. Di sana waktu itu sudah ada dosen saya, dosen KH, dan teman-teman yang mau ikut PKM (Program Kreativitas Mahasiswa, kayak lomba karya ilmiah gitu deh). Asik lho.
Teman-teman PKM ingin menguji pengaruh suatu ekstrak terhadap perlekatan bakteri. Dosen KH itu bercerita banyak soal beberapa pilihan untuk metode penelitian. Di antaranya, kita bisa mencari seberapa hidrofobisitas (’kebencian’ pada air) suatu bakteri terhadap suatu larutan. Semakin hidrofob, bakteri itu semakin tidak larut oleh larutan uji. Kalo hidrofob, bakteri akan menempel pada dinding tabung reaksi. Kalau hidrofil, bakteri akan melarut dan membuat larutan jadi keruh.
Karena teman-teman PKM itu adalah adik angkatan, jadinya pas keluar dari ruang diskusi saya kenalan lagi aja sama mereka. Biarpun saya nggak satu penelitian sama mereka, kayaknya kita bakal kerja bareng nantinya, habisnya pembimbing kita sama sih. Malah pembimbing saya bilang, ”Nanti pake epitelnya Inda aja.” Eh? Lho bukannya skripsi saya nggak membahas epitel? Ooo … ternyata mereka mau ambil sel epitel saya buat penelitian mereka. Hehe, ya enggak apa-apa sih. Kan palingan juga cuma diusap sedikit pake alat yang nggak tajam.
Udah ah, ntar takutnya malah jadi keceplosan bocorin rencana penelitian orang ^_^.
gambar diambil dari sumber ini
Trimmer’s Gazebo at WP: A differential September 16, 2008
Yes, this is genuinely Inda Ardani talking here at WordPress. Yes, I am the chairwoman of Trimmer’s Gazebo at blogger and still I am. For you guys who has already known me yet feel unsure, go ask me some, haha.
Yang jelas di sini bakalan ada cerita-cerita dalam bahasa negeri sendiri tapi kadang nyampur boso jowo juga, hehehe. ‘ra popo, to? :p nggak sih,bukannya gimana-gimana. Salah satu blog yang sering saya pantau adalah ini, cuma kok kayaknya blog saya dua-duanya ini masih harus menempuh jalan yang panjaaang banget kalo mau ngejar yang itu.
Differential itu bukan berate nyontek blog fave saya itu lho, tapi (salah satu) artinya kan pendapat lain. Misalnya aja kalo kita mau mencetak gigi seseorang buat bikin study model sama working model gitu, mana yang didahulukan? Rahang atas atau rahang bawah? Dua-duanya sama saja tapi berdasarkan saran dari senior saya (kolega ortu) sebaiknya rahang bawah dulu. Alasannya? Lanjut ke posting berikutnya aja kali yaaaa :p
Ya gitu, kan pasti ada alasannya, makanya jadi differential . Tapi maksudnya nyantai aja sih, biar bisa ngobrol dalam suasana yang lebih casual sama teman-teman.
Btw maaf kalo halaman ini masih apa adanya banget. Saya masih dalam tahap pendekatan ke wp :p kasih saran dong. Xiexie.
Masih Inda di Sini September 15, 2008
Gara-gara takjub dikasih tahu Mbak Yonna kalau wordpress tu bisa ‘dikunci’ (walaupun sekarang ini belum berniat mengunci blog saya ini :p), dan karena ternyata saya butuh satu lagi ‘tempat sampah’ buat ngeluarin isi kepala, ya udah akhirnya saya bikin adek blog saya yang ini di WP sini. Intinya sih, selamat datang aja buat semuanya